BEDA ANTARA SUKA, CINTA DAN SAYANG
Dihadapan orang yang kau cintai,
musim dingin berubah menjadi musim semi yang indah
Dihadapan orang yang kau sukai,
musim dingin tetap saja musim dingin hanya
suasananya lebih indah sedikit
Dihadapan orang yang kau cintai,
jantungmu tiba tiba berdebar lebih cepat
Dihadapan orang yang kau sukai,
kau hanya merasa senang dan gembira saja
Apabila engkau melihat kepada mata orang yang
kau cintai, matamu berkaca-kaca
Apabila engkau melihat kepada mata orang yang
kau sukai, engkau hanya tersenyum saja
Dihadapan orang yang kau cintai,
kata kata yang keluar berasal dari perasaan yang terdalam
Dihadapan orang yang kau sukai,
kata kata hanya keluar dari pikiran saja
Jika orang yang kau cintai menangis,
engkaupun akan ikut menangis disisinya
Jika orang yang kau sukai menangis,
engkau hanya menghibur saja
Perasaan cinta itu dimulai dari mata, sedangkan
rasa suka dimulai dari telinga
Jadi jika kau mau berhenti menyukai seseorang,
cukup dengan menutup telinga.
Tapi apabila kau mencoba menutup matamu dari
orang yang kau cintai, cinta itu berubah menjadi
tetesan air mata dan terus tinggal dihatimu dalam
jarak waktu yang cukup lama.
“Tetapi selain rasa suka dan rasa cinta… ada
perasaan yang lebih mendalam.
Yaitu rasa sayang…. rasa yang tidak hilang
secepat rasa cinta. Rasa yang tidak mudah berubah.
Perasaan yang dapat membuat mu berkorban untuk orang yang kamu sayangi.
Mau menderita demi kebahagiaan orang yang kamu sayangi.
Cinta ingin memiliki. Tetapi Sayang hanya ingin
melihat orang yang disayanginya bahagia..
walaupun harus kehilangan.”
“Dikutip dari pesan yang dikirimkan oleh SayangKu…”
“Syofriwan”, apa artinya ya?
Apalah arti sebuah nama?
Mungkin banyak orang memberikan nama yang penuh arti bagi anak mereka. Tentunya dalam nama yang diberikan terkandung makna yang berisikan harapan atau doa dari orang tua mereka.
Nah, apa arti dari nama saya? ”Syofriwan”.
Hanya sembilan huruf, hanya tiga suku kata dan hanya satu kata.
Masih berselimut misteri, orang tua sayapun yang memberikan nama tersebut belum buka suara mengungkapkan apa arti dari nama tersebut. Beberapa literatur yang saya buka tidak ada satu referensipun tentang nama tersebut. Bahkan jika anda menjalankan search engine ”Google” dan mengetikkan kata ”Syofriwan” yang muncul hanyalah referensi tentang saya sendiri.
Luar biasa !!
Siapa yang bisa memecahkan misteri ini?
Trend nama ”Orang Minang”
Jika memperhatikan daftar nama di buku telepon akan muncul suatu pertanyaan di benak kita, apakah nama-nama yang muncul mengikuti trend?
Secara nalar, mungkin kita dapat menjawab ya! Kita dapat melihat bahwa trend nama mengalami perkembangan seiring waktu.
Hal menarik ini dapat kita lihat dari trend nama-nama orang Minang berdasarkan kurun waktu.
Era sebelum tahun 50-an, nama-nama orang Minang biasanya hanyalah satu patah kata yang sederhana dan mudah diingat, dan berasal dari bahasa Arab ataupun bahasa Minang sendiri. Misalnya, Rabiah, Syawal, Amirudin, Hindun dan banyak lainnya. Hal ini mungkin disebabkan saat itu trend memiliki anak banyak sedang in sehingga para orang tua kebingungan memberikan nama bagi anaknya. Hehe…
Memasuki era tahun 50-an, muncul trend nama yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan sebelumnya yaitu hanya terdiri atas satu kata, tapi mengalami penyeragaman. Nama-namanya biasanya dicirikan dengan awalan ataupun akhiran yang sama, untuk awalan biasanya adalah Nur-, Des-, Yus- dan banyak lainnya sedangkan akhiran yang populer biasanya –zal, -zar, -mar dan banyak lagi yang lainnya. Biasanya awalan atau akhiran tersebut disambungkan dengan kata lainnya yang akan menjadi nama panggilannya.
Memasuki era 80-an, pengaruh baratpun mulai memberikan efek pada nama-nama orang Padang. Orang tua mulai getol memberikan nama anak yang berbau Barat. Dan nama yang diberikanpun mulai bergeser menjadi dua kata. Dan nama-nama yang digemari biasanya adalah Ramos, Ferdinand, Fernandes, Ricky (Riki), dan banyak lainnya. Hal ini mungkin masyarakat telah mengenal televisi dan mengenal nama-nama yang bagi mereka menarik untuk dijadikan sebagai nama anak mereka.
Dan di era 90-an sampai 2000-an, trend nama bergeser kembali ke bahasa Arab, dan biasanya nama-nama yang diberikanpun mulai panjang-panjang mulai dari hanya dua kata sampai empat kata. Nama tersebut biasanya terdiri atas nama panggilan yang berbau Arab, nama orang tuanya atau gabungan nama orang tuanya dan nama sukunya. Nama-nama populer biasanya adalah Nadia, Salsabila, Fiqi, Fikri, Nasywa dan banyak lainnya.
Apakah nama anda mengikuti trend??
Neil Armstrong dan Rumah Makan Padang, Apa hubungannya?
Restoran Padang atau Rumah Makan Padang ?
Hmm…
Mendengarnya akan membuat anda membayangkan sebuah meja makan dengan aneka menu dengan aroma yang mengundang selera.
Rumah makan Padang memang telah menjadi wajah Indonesia dalam hal kuliner. Hampir di seluruh pelosok Nusantara dari Sabang sampai Merauke, tersebar puluhan ribu rumah makan Padang mulai kelas bawa- pinggir jalan- sampai yang menyelusup masuk ke pusat perbelanjaan-kelas atas-, bahkan telah menjajal hingga mancanegara. Yang jelas dimana ada komunitas ”urang awak”, disana ada Rumah Makan Padang.
Penikmatnyapun beragam mulai dari orang Minang yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan masakan lain sampai beragam suku bangsa yang kecantol dengan rasanya. Rahasia suksesnya adalah racikan bumbunya yang begitu khas dan sangat cocok dengan semua jenis lidah. Namun tidak berarti masakan Padang dapat langsung diterima oleh semua orang. Beberapa menu telah mengalami adaptasi baik secara nasional maupun daerah setempat dimana rumah makan itu berada. Yang pasti kemampuan menyesuaikan diri telah membuat rumah makan ini mampu eksis dimana-mana.
Hubungannya dengan Neil Armstrong? Apakah Neil Armstrong pernah makan di Rumah Makan Padang yang mungkin waktu itu telah ada di kampungnya sana? Ternyata, tidak ada hubungannya sama sekali.
Saking banyaknya bertebaran rumah makan Padang di seluruh penjuru dunia, muncul selorohan dari pengelola rumah makan Padang bahwa Neil Armstrong melihat Rumah Makan Padang di Bulan, nah lho, apa lagi nih?
Kok ng nyambung ya?
Why “I choose Accounting” ?
Hmm…
Memang susah untuk dijawab!
Keberadaanku di Akuntansi mungkin sudah menjadi pertanyaan banyak orang.
Bagaimana mungkin seseorang yang malang melintang di dunia eksakta bisa terpeleset ke sosial science?
Mungkin, ungkapan bahwa hidup adalah kebetulan memang benar.
Pada awalnya, aku tidak tertarik pada dunia Akuntansi. Namun nasib lah yang menggiringku untuk menjalani dunia yang sebenarnya sangat asing sebelumnya.
Semua berawal ketika aku mencoba mengikuti program PPKB yang ditawarkan oleh UI. Sebenarnya aku ingin mengambil jurusan Ilmu Eksakta namun setelah melihat track record jurusan-jurusan yang ada aku memutuskan memilih jurusan Akuntansi.
Dan kembali nasib berbicara, ternyata aku diterima pada jurusan tersebut. Disanalah kebimbangan mulai muncul. Niat untuk menempuh pendidikan di dunia eksakta masih kuat, akan tetapi aku diterima di program sosial. Setelah menimbang, aku sadar mungkin inilah jalan yang diberikan Allah SWT., dan aku harus menjalaninya.
Dalam pikiranku waktu itu, jika tidak bisa menikmati kuliah jurusan akuntansi akan kembali mengikuti SPMB tahun depannya.
Sejak itu mulailah perjalanan panjang di dunia Akuntansi ini. Barulah aku menyadari bahwa ternyata Akuntansi tidak seasing yang kukira. Dalam hidup keseharian kita telah mempraktikkan segala hal yang berbau Akuntansi. Dunia yang serba teratur, terkontrol dan ter-audit membuatku mencintai Akuntansi. Secara perlahan perasaan yang semula masih coba-coba bergeser menjadi keyakinan untuk menjalaninya sampai selesai.
Dunia Akuntansi atau sosial umumnya memang jauh berbeda dengan dunia eksakta. Jika dunia eksakta berawal dari Hipotesis atau teori dan kemudian dilakukan percobaan atau penelitian, barulah kemudian tercipta Hukum. Akan tetapi dalam dunia Akuntansi, semuanya adalah seni. Setiap orang bebas mengekspresikan hal yang disukainya. Oleh karena itu agar tercipta suatu pemahaman yang sama terhadap suatu masalah, diciptakanlah Standar.
“International Financial Reporting Standards” dan “Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan” adalah dua hal yang sangat akrab dalam keseharianku saat ini. Mau tau lebih jauh dengan Akuntansi?
Lalu, bagaimana dengan kelangsungan dunia eksakta yang telah kutinggalkan?
Hmm…
Sulit dijawab, tapi aku merasa Akuntansi bisa menjadi jembatan bagi dunia eksakta dan sosial. Dan buktinya adalah pemanfaatan IT pada dunia Akuntansi. Mungkin inilah jalan hidup yang harus aku tempuh. Kuberharap percabangan garis tangan ini akan menemukan titik temu.
I Love Accounting !